Saham yang dicatatkan di BEI dibagi atas dua papan pencatatan yaitu Papan Utama dan Papan Pengembangan dimana penempatan dari emiten dan calon emiten yang disetujui pencatatannya di dasarkan pada pemenuhan persyaratan pencatatan awal pada masing-masing papan pencatatan.
Papan Utama ditujukan untuk calon emiten atau emiten yang mempunyai ukuran (size) besar dan mempunyai track record yang baik. Sementara Papan Pengembangan dimaksudkan untuk perusahaan-perusahaan yang belum dapat memenuhi persyaratan pencatatan di Papan Utama, termasuk perusahaan yang prospektif namun belum menghasilkan keuntungan, dan merupakan sarana bagi perusahaan yang sedang dalam penyehatan sehingga diharapkan pemulihan ekonomi nasional dapat terlaksana lebih cepat.
Persyaratan Umum pencatatan di BEI
Calon emiten bisa mencatatkan sahamnya di Bursa, apabila telah memenuhi syarat berikut:
Pernyataan Pendaftaran Emisi telah dinyatakan Efektif oleh BAPEPAM-LK.
Calon emiten tidak sedang dalam sengketa hukum yang diperkirakan dapat mempengaruhi kelangsungan perusahaan.
Bidang usaha baik langsung atau tidak langsung tidak dilarang oleh Undang-Undang yang berlaku di Indonesia.
Khusus calon emiten pabrikan, tidak dalam masalah pencemaran lingkungan (hal tersebut dibuktikan dengan sertifikat AMDAL) dan calon emiten industri kehutanan harus memiliki sertifikat ecolabelling (ramah lingkungan).
Khusus calon emiten bidang pertambangan harus memiliki ijin pengelolaan yang masih berlaku minimal 15 tahun; memiliki minimal 1 Kontrak Karya atau Kuasa Penambangan atau Surat Ijin Penambangan Daerah; minimal salah satu Anggota Direksinya memiliki kemampuan teknis dan pengalaman di bidang pertambangan; calon emiten sudah memiliki cadangan terbukti (proven deposit) atau yang setara.
Khusus calon emiten yang bidang usahanya memerlukan ijin pengelolaan (seperti jalan tol, penguasaan hutan) harus memiliki ijin tersebut minimal 15 tahun.
Calon emiten yang merupakan anak perusahaan dan/atau induk perusahaan dari emiten yang sudah tercatat (listing) di BEI dimana calon emiten memberikan kontribusi pendapatan kepada emiten yang listing tersebut lebih dari 50% dari pendapatan konsolidasi, tidak diperkenankan tercatat di Bursa.
Persyaratan pencatatan awal yang berkaitan dengan hal finansial didasarkan pada laporan keuangan Auditan terakhir sebelum mengajukan permohonan pencatatan.
Persyaratan Pencatatan Awal di Papan Utama
Calon Perusahaan Tercatat akan dicatatkan untuk pertama kalinya di Papan Utama apabila memenuhi persyaratan berikut:
No Kriteria
1. Telah memenuhi persyaratan umum pencatatan saham
2. Sampai dengan diajukannya permohonan pencatatan, telah melakukan kegiatan operasional dalam usaha utama (core business) yang sama minimal 36 bulan berturut-turut.
3. Laporan Keuangan telah diaudit 3 tahun buku terakhir, dengan ketentuan Laporan Keuangan Auditan 2 tahun buku terakhir dan Laporan Keuangan Auditan interim terakhir (jika ada) memperoleh pendapat Wajar Tanpa Pengecualian(WTP).
4. Berdasarkan Laporan Keuangan Auditan terakhir memiliki Aktiva Berwujud Bersih (Net Tangible Asset) minimal Rp 100.000.000.000,- (seratus miliar rupiah)
5. Jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham yang bukan merupakan Pemegang Saham Pengendali (minority shareholders) setelah Penawaran Umum atau perusahaan yang sudah tercatat di Bursa Efek lain atau bagi Perusahaa Publik yang belum tercatat di Bursa Efek lain dalam periode 5 (lima) hari bursa sebelum permohonan pencatatan, sekurang-kurangnya 100.000.000 (seratus juta) saham atau 35% dari modal disetor (mana yang lebih kecil).
6. Jumlah pemegang saham paling sedikit 1.000 (seribu) pemegang saham yang memiliki rekening Efek di Anggota Bursa Efek, dengan ketentuan:
- Bagi Calon Perusahaan Tercatat yang melakukan penawaran umum, maka jumlah pemegang saham tersebut adalah pemegang saham setelah penawaran umum perdana.
- Bagi Calon Perusahaan Tercatat yang berasal dari perusahaan publik, maka jumlah pemegang saham tersebut adalah jumlah pemegang saham terakhir selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum mengajukan permohonan pencatatan.
- Bagi Calon Perusahaan Tercatat yang tercatat di Bursa Efek lain, maka jumlah pemegang saham tersebut adalah dihitung berdasarkan rata-rata per bulan selama 6 (enam) bulan terakhir.
Persyaratan Pencatatan di Papan Pengembangan
Calon Perusahaan Tercatat akan dicatatkan untuk pertama kalinya di Papan Pengembangan apabila memenuhi persyaratan berikut:
No Kriteria
1. Telah memenuhi persyaratan umum pencatatan saham
2. Sampai dengan diajukannya permohonan pencatatan, telah melakukan kegiatan operasional dalam usaha utama (core business) yang sama minimal 12 bulan berturut-turut.
3. Laporan Keuangan Auditan tahun buku terakhir yang mencakup minimal 12 bulan dan Laporan Keuangan Auditan interim terakhir (jika ada) memperoleh pendapat Wajar Tanpa Pengecualian(WTP).
4. Memiliki Aktiva Berwujud Bersih (net tangible asset) minimal Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah)
5. Jika calon emiten mengalami rugi usaha atau belum membukukan keuantungan atau beroperasi kurang dari 2 tahun, wajib:
- selambat-lambatnya pada akhir tahun buku ke-2 sejak tercatat sudah memperoleh laba usaha dan laba bersih berasarkan proyeksi keuangan yang akan diumumkan di Bursa.
- Khusus bagi calon emiten yang bergerak dalam bidang yang sesuai dengan sifatnya usahanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai titik impas (seperti: infrastruktur, perkebunan tanaman keras, konsesi Hak Pengelolaan Hutan (HPH) atau Hutan Tanaman Industri (HTI) atau bidang usaha lain yang berkaitan dengan pelayanan umum, maka berdasarkan proyeksi keuangan calon perusahaan tercatat tsb selambat-lambatnya pada akhir tahun buku ke-6 sejak tercatat sudah memperoleh laba usaha dan laba bersih.
6. Jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham yang bukan merupakan Pemegang Saham Pengendali (minority shareholders) setelah Penawaran Umum atau perusahaan yang sudah tercatat di Bursa Efek lain atau bagi Perusahaa Publik yang belum tercatat di Bursa Efek lain dalam periode 5 (lima) hari bursa sebelum permohonan pencatatan, sekurang-kurangnya 50.000.000 (limka puluh juta) saham atau 35% dari modal disetor (mana yang lebih kecil).
7. Jumlah pemegang saham paling sedikit 500 (lima ratus) pemegang saham yang memiliki rekening Efek di Anggota Bursa Efek, dengan ketentuan:
- Bagi Calon Perusahaan Tercatat yang melakukan penawaran umum, maka jumlah pemegang saham tersebut adalah pemegang saham setelah penawaran umum perdana.
- Bagi Calon Perusahaan Tercatat yang berasal dari perusahaan publik, maka jumlah pemegang saham tersebut adalah jumlah pemegang saham terakhir selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum mengajukan permohonan pencatatan.
- Bagi Calon Perusahaan Tercatat yang tercatat di Bursa Efek lain, maka jumlah pemegang saham tersebut adalah dihitung berdasarkan rata-rata per bulan selama 6 (enam) bulan terakhir.
8. Khusus calon emiten yang ingin melakukan IPO, perjanjian penjaminan emisinya harus menggunakan prinsip kesanggupan penuh (full commitment).
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Jumat, 19 Februari 2010
PROSES GO PUBLIC
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan. Sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari kreditur berupa hutang, pembiayaan bentuk lain atau dengan penerbitan surat-surat utang, maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam bentuk saham (equity). Pendanaan melalui mekanisme penyertaan umumnya dilakukan dengan menjual saham perusahaan kepada masyarakat atau sering dikenal dengan go publik.
Untuk go publik, perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan untuk go publik atau penawaran umum, serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan BAPEPAM-LK.
Penawaran Umum atau sering pula disebut Go Public adalah kegiatan penawaran saham atau Efek lainnya yang dilakukan oleh Emiten (perusahaan yang akan go public) untuk menjual saham atau Efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.
Penawaran Umum mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a. Periode Pasar Perdana yaitu ketika Efek ditawarkan kepada pemodal oleh Penjamin Emisi melalui para Agen Penjual yang ditunjuk
b. Penjatahan Saham yaitu pengalokasian Efek pesanan para pemodal sesuai dengan jumlah Efek yang tersedia;
c. Pencatatan Efek di Bursa, yaitu saat Efek tersebut mulai diperdagangkan di Bursa.
Proses Penawaran Umum saham dapat dikelompokkan menjadi 4 tahapan berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka Penawaran Umum saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan penunjukan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar yaitu:
a. Penjamin Emisi (underwriter). Merupakan pihak yang paling banyak keterlibatannya dalam membantu emiten dalam rangka penerbitan saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain: menyiapkan berbagai dokumen, membantu menyiapkan prospektus, dan memberikan penjaminan atas penerbitan.
b. Akuntan Publik (Auditor Independen). Bertugas melakukan audit atau pemeriksaan atas laporan keuangan calon emiten.
c. Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut;
d. Konsultan Hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion).
e. Notaris untuk membuat akta-akta perubahan Anggaran Dasar, akta perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulen-notulen rapat.
2. Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran
Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAM-LK menyatakan Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif.
3. Tahap Penawaran Saham
Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk. Masa Penawaran sekurang-kurangnya tiga hari kerja. Perlu diingat pula bahwa tidak seluruh keinginan investor terpenuhi dalam tahapan ini. Misal, saham yang dilepas ke pasar perdana sebanyak 100 juta saham sementara yang ingin dibeli seluruh investor berjumlah 150 juta saham. Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka investor tersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di Bursa Efek.
4. Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek
Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Untuk go publik, perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan untuk go publik atau penawaran umum, serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan BAPEPAM-LK.
Penawaran Umum atau sering pula disebut Go Public adalah kegiatan penawaran saham atau Efek lainnya yang dilakukan oleh Emiten (perusahaan yang akan go public) untuk menjual saham atau Efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.
Penawaran Umum mencakup kegiatan-kegiatan berikut:
a. Periode Pasar Perdana yaitu ketika Efek ditawarkan kepada pemodal oleh Penjamin Emisi melalui para Agen Penjual yang ditunjuk
b. Penjatahan Saham yaitu pengalokasian Efek pesanan para pemodal sesuai dengan jumlah Efek yang tersedia;
c. Pencatatan Efek di Bursa, yaitu saat Efek tersebut mulai diperdagangkan di Bursa.
Proses Penawaran Umum saham dapat dikelompokkan menjadi 4 tahapan berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka Penawaran Umum saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan penunjukan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar yaitu:
a. Penjamin Emisi (underwriter). Merupakan pihak yang paling banyak keterlibatannya dalam membantu emiten dalam rangka penerbitan saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain: menyiapkan berbagai dokumen, membantu menyiapkan prospektus, dan memberikan penjaminan atas penerbitan.
b. Akuntan Publik (Auditor Independen). Bertugas melakukan audit atau pemeriksaan atas laporan keuangan calon emiten.
c. Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut;
d. Konsultan Hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion).
e. Notaris untuk membuat akta-akta perubahan Anggaran Dasar, akta perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulen-notulen rapat.
2. Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran
Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAM-LK menyatakan Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif.
3. Tahap Penawaran Saham
Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk. Masa Penawaran sekurang-kurangnya tiga hari kerja. Perlu diingat pula bahwa tidak seluruh keinginan investor terpenuhi dalam tahapan ini. Misal, saham yang dilepas ke pasar perdana sebanyak 100 juta saham sementara yang ingin dibeli seluruh investor berjumlah 150 juta saham. Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka investor tersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di Bursa Efek.
4. Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek
Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
MENGENAL OBLIGASI
OBLIGASI
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.
Jenis Obligasi
Obligasi memiliki beberapa jenis yang berbeda, yaitu :
1) Dilihat dari sisi penerbit :
a) Corporate Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
b) Government Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
c) Municipal Bond : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).
2) Dilihat dari sistem pembayaran bunga :
a) Zero Coupon Bonds : obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo.
b) Coupon Bonds : obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
c) Fixed Coupon Bonds : obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.
d) Floating Coupon Bonds : obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.
3) Dilihat dari hak penukaran / opsi :
a) Convertible Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.
b) Exchangeable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
c) Callable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
d) Putable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
4) Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya
a) Secured Bonds : obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:
- Guaranteed Bonds : Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penangguangan dari pihak ketiga
- Mortgage Bonds : obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau asset tetap.
- Collateral Trust Bonds : obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.
b) Unsecured Bonds : obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.
5) Dilihat dari segi nilai nominal
a. Konvensional Bonds : obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
b. Retail Bonds : obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.
6) Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil :
a. Konvensional Bonds : obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem kupon bunga.
b. Syariah Bonds : obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi syariah, yaitu:
- Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.
- Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan
Karakteristik Obligasi :
Nilai Nominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.
Kupon (the Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase.
Jatuh Tempo (Maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi Kupon / bunga nya.
Penerbit / Emiten (Issuer) Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi Obligasi Ritel. Mengukur resiko / kemungkinan dari penerbit obigasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia.
Harga Obligasi :
Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam persentase (%), yaitu persentase dari nilai nominal.
Ada 3 (tiga) kemungkinan harga pasar dari obligasi yang ditawarkan, yaitu:
Par (nilai Pari) : Harga Obligasi sama dengan nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual pada harga 100%, maka nilai obligasi tersebut adalah 100% x Rp 50 juta = Rp 50 juta.
at premium (dengan Premi) : Harga Obligasi lebih besar dari nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal RP 50 juta dijual dengan harga 102%, maka nilai obligasi adalah 102% x Rp 50 juta = Rp 51 juta
at discount (dengan Discount) : Harga Obligasi lebih kecil dari nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual dengan harga 98%, maka nilai dari obligasi adalah 98% x Rp 50 juta = Rp 49 juta.
Yield Obligasi :
Pendapatan atau imbal hasil atau return yang akan diperoleh dari investasi obligasi dinyatakan sebagai yield, yaitu hasil yang akan diperoleh investor apabila menempatkan dananya untuk dibelikan obligasi. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi obligasi, investor harus mempertimbangkan besarnya yield obligasi, sebagai faktor pengukur tingkat pengembalian tahunan yang akan diterima.
Ada 2 (dua) istilah dalam penentuan yield yaitu current yield dan yield to maturity.
Currrent yield adalah yield yang dihitung berdasrkan jumlah kupon yang diterima selama satu tahun terhadap harga obligasi tersebut.
Current yield = bunga tahunan
harga obligasi
Contoh:
Jika obligasi PT XYZ memberikan kupon kepada pemegangnya sebesar 17% per tahun sedangkan harga obligasi tersebut adalah 98% untuk nilai nominal Rp 1.000.000.000, maka:
Current Yield = Rp 170.000.000 atau 17%
Rp 980.000.000 98%
= 17.34%
Sementara itu yiled to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo. Formula YTM yang seringkali digunakan oleh para pelaku adalah YTM approximation atau pendekatan nilai YTM, sebagai berikut:
YTM approximation = C + R – P
n x 100%
R + P
2
Keterangan:
C = kupon
n = periode waktu yang tersisa (tahun)
R = redemption value
P = harga pemeblian (purchase value)
Contoh:
Obligasi XYZ dibeli pada 5 September 2003 dengan harga 94.25% memiliki kupon sebesar 16% dibayar setiap 3 bulan sekali dan jatuh tempo pada 12 juli 2007. Berapakah besar YTM approximationnya ?
C = 16%
n = 3 tahun 10 bulan 7 hari = 3.853 tahun
R = 94.25%
P = 100%
YTM approximation = 16 + 100 – 94.25
3.853
= 100 + 94.25
2
= 18.01 %
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.
Jenis Obligasi
Obligasi memiliki beberapa jenis yang berbeda, yaitu :
1) Dilihat dari sisi penerbit :
a) Corporate Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
b) Government Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
c) Municipal Bond : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).
2) Dilihat dari sistem pembayaran bunga :
a) Zero Coupon Bonds : obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo.
b) Coupon Bonds : obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
c) Fixed Coupon Bonds : obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.
d) Floating Coupon Bonds : obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.
3) Dilihat dari hak penukaran / opsi :
a) Convertible Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.
b) Exchangeable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
c) Callable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
d) Putable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
4) Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya
a) Secured Bonds : obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:
- Guaranteed Bonds : Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penangguangan dari pihak ketiga
- Mortgage Bonds : obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau asset tetap.
- Collateral Trust Bonds : obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.
b) Unsecured Bonds : obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.
5) Dilihat dari segi nilai nominal
a. Konvensional Bonds : obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
b. Retail Bonds : obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.
6) Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil :
a. Konvensional Bonds : obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem kupon bunga.
b. Syariah Bonds : obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi syariah, yaitu:
- Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.
- Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan
Karakteristik Obligasi :
Nilai Nominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.
Kupon (the Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase.
Jatuh Tempo (Maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi Kupon / bunga nya.
Penerbit / Emiten (Issuer) Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi Obligasi Ritel. Mengukur resiko / kemungkinan dari penerbit obigasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia.
Harga Obligasi :
Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam persentase (%), yaitu persentase dari nilai nominal.
Ada 3 (tiga) kemungkinan harga pasar dari obligasi yang ditawarkan, yaitu:
Par (nilai Pari) : Harga Obligasi sama dengan nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual pada harga 100%, maka nilai obligasi tersebut adalah 100% x Rp 50 juta = Rp 50 juta.
at premium (dengan Premi) : Harga Obligasi lebih besar dari nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal RP 50 juta dijual dengan harga 102%, maka nilai obligasi adalah 102% x Rp 50 juta = Rp 51 juta
at discount (dengan Discount) : Harga Obligasi lebih kecil dari nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual dengan harga 98%, maka nilai dari obligasi adalah 98% x Rp 50 juta = Rp 49 juta.
Yield Obligasi :
Pendapatan atau imbal hasil atau return yang akan diperoleh dari investasi obligasi dinyatakan sebagai yield, yaitu hasil yang akan diperoleh investor apabila menempatkan dananya untuk dibelikan obligasi. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi obligasi, investor harus mempertimbangkan besarnya yield obligasi, sebagai faktor pengukur tingkat pengembalian tahunan yang akan diterima.
Ada 2 (dua) istilah dalam penentuan yield yaitu current yield dan yield to maturity.
Currrent yield adalah yield yang dihitung berdasrkan jumlah kupon yang diterima selama satu tahun terhadap harga obligasi tersebut.
Current yield = bunga tahunan
harga obligasi
Contoh:
Jika obligasi PT XYZ memberikan kupon kepada pemegangnya sebesar 17% per tahun sedangkan harga obligasi tersebut adalah 98% untuk nilai nominal Rp 1.000.000.000, maka:
Current Yield = Rp 170.000.000 atau 17%
Rp 980.000.000 98%
= 17.34%
Sementara itu yiled to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo. Formula YTM yang seringkali digunakan oleh para pelaku adalah YTM approximation atau pendekatan nilai YTM, sebagai berikut:
YTM approximation = C + R – P
n x 100%
R + P
2
Keterangan:
C = kupon
n = periode waktu yang tersisa (tahun)
R = redemption value
P = harga pemeblian (purchase value)
Contoh:
Obligasi XYZ dibeli pada 5 September 2003 dengan harga 94.25% memiliki kupon sebesar 16% dibayar setiap 3 bulan sekali dan jatuh tempo pada 12 juli 2007. Berapakah besar YTM approximationnya ?
C = 16%
n = 3 tahun 10 bulan 7 hari = 3.853 tahun
R = 94.25%
P = 100%
YTM approximation = 16 + 100 – 94.25
3.853
= 100 + 94.25
2
= 18.01 %
Sumber : Indonesia Stock Exchange
MENGENAL SAHAM
Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.
Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham:
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham - atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.
2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.
Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.
2. Risiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham.
Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.
Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham:
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham - atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.
2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.
Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.
2. Risiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham.
Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.
Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
MENGENAL PASAR MODAL
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya.
Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, right, reksa dana, dan berbagai instrumen derivatif seperti option, futures, dan lain-lain.
Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar modal sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.
Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, right, reksa dana, dan berbagai instrumen derivatif seperti option, futures, dan lain-lain.
Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar modal sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.
Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
INDEKS HARGA SAHAM DAN OBLIGASI
A. INDEKS HARGA SAHAM
Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks berfungsi sebagai indikator trend pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu.
Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini; apakah sedang naik, stabil atau turun. Misal, jika di awal bulan nilai indeks 300 dan saat ini di akhir bulan menjadi 360, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 20%.
Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham. Karena harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, maka nilai indeks pun bergerak turun naik dalam hitungan waktu yang cepat pula.
Di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 (enam) jenis indeks, antara lain:
1. Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI.
2. Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa, dan manufaktur.
3. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index), menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen penghitungan indeks.
Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk kedalam LQ 45 tersebut.
4. Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index). JII merupakan indeks yang terdiri 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti:
a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
c. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram
d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat
6. Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.
7. Indeks KOMPAS 100. merupakan Indeks Harga Saham hasil kerjasama Bursa Efek Indonesia dengan harian KOMPAS. Indeks ini meliputi 100 saham dengan proses penentuan sebagai berikut :
a. Telah tercatat di BEJ minimal 3 bulan.
b. Saham tersebut masuk dalam perhitungan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).
c. Berdasarkan pertimbangan faktor fundamental perusahaan dan pola perdagangan di bursa, BEI dapat menetapkan untuk mengeluarkan saham tersebut dalam proses perhitungan indeks harga 100 saham.
d. Masuk dalam 150 saham dengan nilai transaksi dan frekwensi transaksi serta kapitalisasi pasar terbesar di Pasar Reguler, selama 12 bulan terakhir.
e. Dari sebanyak 150 saham tersebut, kemudian diperkecil jumlahnya menjadi 60 saham dengan mempertimbangkan nilai transaksi terbesar.
f. Dari sebanyak 90 saham yang tersisa, kemudian dipilih sebnyak 40 saham dengan mempertimbangkan kinerja: hari transaksi dan frekwensi transaksi serta nilai kapitalisasi pasar di pasar reguler, dengan proses sebagai berikut :
i. Dari 90 sisanya, akan dipilih 75 saham berdasarkan hari transaksi di pasar reguler.
ii. Dari 75 saham tersebut akan dipilih 60 saham berdasarkan frekuensi transaksi di pasar reguler.
iii. Dari 60 saham tersebut akan dipilih 40 saham berdasarkan Kapitalisasi Pasar.
g. Daftar 100 saham diperoleh dengan menambahkan daftar saham dari hasil perhitungan butir (e) ditambah dengan daftar saham hasil perhitungan butir
h. Daftar saham yang masuk dalam KOMPAS 100 akan diperbaharui sekali dalam 6 bulan, atau tepatnya pada bulan Februari dan pada bulan Agustus.
B. INDEKS OBLIGASI PEMERINTAH
Indeks Obligasi Pemerintah pertama kali diluncurkan pada tanggal 01 Juli 2004, sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat pasar modal dalam memperoleh data sehubungan dengan informasi perdagangan obligasi pemerintah.
Indeks Obligasi memberikan nilai lebih, antara lain:
• Sebagai barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi.
• Sebagai alat analisa teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
• Benchmark dalam mengukur kinerja portofolio obligasi
• Analisa pengembangan instrumen obligasi pemerintah.
Formula yang digunakan dalam pengembangan informasi Indeks Obligasi Pemerintah:
1. Price (Performance) Index
2. Yield Index
3. Total Return Index
Kami mengharapkan dengan adanya Indeks Obligasi Pemerintah ini akan memenuhi kebutuhan Pasar Modal di Indonesia, khususnya Pasar Obligasi dalam pembentukan transparansi harga di Pasar, sehingga terwujud harga wajar obligasi dan pasar yang efisien.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Indeks harga saham adalah suatu indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks berfungsi sebagai indikator trend pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu.
Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui trend pergerakan harga saham saat ini; apakah sedang naik, stabil atau turun. Misal, jika di awal bulan nilai indeks 300 dan saat ini di akhir bulan menjadi 360, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 20%.
Pergerakan indeks menjadi indikator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham. Karena harga-harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit, maka nilai indeks pun bergerak turun naik dalam hitungan waktu yang cepat pula.
Di Bursa Efek Indonesia terdapat 6 (enam) jenis indeks, antara lain:
1. Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing-masing saham terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang tercatat di BEI.
2. Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham yang termasuk dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan, pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa, dan manufaktur.
3. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (Composite Stock Price Index), menggunakan semua saham yang tercatat sebagai komponen penghitungan indeks.
Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri 45 saham pilihan dengan mengacu kepada 2 variabel yaitu likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang masuk kedalam LQ 45 tersebut.
4. Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index). JII merupakan indeks yang terdiri 30 saham mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah seperti:
a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
c. Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram
d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat
6. Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Yaitu indeks harga saham yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di BEI yaitu kelompok Papan Utama dan Papan Pengembangan.
7. Indeks KOMPAS 100. merupakan Indeks Harga Saham hasil kerjasama Bursa Efek Indonesia dengan harian KOMPAS. Indeks ini meliputi 100 saham dengan proses penentuan sebagai berikut :
a. Telah tercatat di BEJ minimal 3 bulan.
b. Saham tersebut masuk dalam perhitungan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan).
c. Berdasarkan pertimbangan faktor fundamental perusahaan dan pola perdagangan di bursa, BEI dapat menetapkan untuk mengeluarkan saham tersebut dalam proses perhitungan indeks harga 100 saham.
d. Masuk dalam 150 saham dengan nilai transaksi dan frekwensi transaksi serta kapitalisasi pasar terbesar di Pasar Reguler, selama 12 bulan terakhir.
e. Dari sebanyak 150 saham tersebut, kemudian diperkecil jumlahnya menjadi 60 saham dengan mempertimbangkan nilai transaksi terbesar.
f. Dari sebanyak 90 saham yang tersisa, kemudian dipilih sebnyak 40 saham dengan mempertimbangkan kinerja: hari transaksi dan frekwensi transaksi serta nilai kapitalisasi pasar di pasar reguler, dengan proses sebagai berikut :
i. Dari 90 sisanya, akan dipilih 75 saham berdasarkan hari transaksi di pasar reguler.
ii. Dari 75 saham tersebut akan dipilih 60 saham berdasarkan frekuensi transaksi di pasar reguler.
iii. Dari 60 saham tersebut akan dipilih 40 saham berdasarkan Kapitalisasi Pasar.
g. Daftar 100 saham diperoleh dengan menambahkan daftar saham dari hasil perhitungan butir (e) ditambah dengan daftar saham hasil perhitungan butir
h. Daftar saham yang masuk dalam KOMPAS 100 akan diperbaharui sekali dalam 6 bulan, atau tepatnya pada bulan Februari dan pada bulan Agustus.
B. INDEKS OBLIGASI PEMERINTAH
Indeks Obligasi Pemerintah pertama kali diluncurkan pada tanggal 01 Juli 2004, sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat pasar modal dalam memperoleh data sehubungan dengan informasi perdagangan obligasi pemerintah.
Indeks Obligasi memberikan nilai lebih, antara lain:
• Sebagai barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi.
• Sebagai alat analisa teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
• Benchmark dalam mengukur kinerja portofolio obligasi
• Analisa pengembangan instrumen obligasi pemerintah.
Formula yang digunakan dalam pengembangan informasi Indeks Obligasi Pemerintah:
1. Price (Performance) Index
2. Yield Index
3. Total Return Index
Kami mengharapkan dengan adanya Indeks Obligasi Pemerintah ini akan memenuhi kebutuhan Pasar Modal di Indonesia, khususnya Pasar Obligasi dalam pembentukan transparansi harga di Pasar, sehingga terwujud harga wajar obligasi dan pasar yang efisien.
Sumber : Indonesia Stock Exchange
Senin, 25 Januari 2010
Creating Multiple Streams of Affiliate Marketing Income
Have you ever heard or read the phrase “multiple streams of income” before? Do you know what this phrase means? For many businessmen, creating multiple streams of income online or offline is one way of securing themselves as well as their businesses in the future. They also believe that it can also save them from the so-called famine effect in the business industry. Once you are engaged in affiliate marketing business, it is advisable if you have multiple streams of affiliate marketing income so that if one of those income streams vanished, it will not upset you the way losing your sole stream would. If you depend on just one source of income and this single stream has been downsized or has lain off, you’ll surely find yourself bankrupted and hopeless. Try to ask the most successful online entrepreneurs, and you’ll discover that they have established multiple streams of online income.
There is a businessman that said and attested that the very first step you must take in creating multiple streams of income is to assess or evaluate your resources. Start by assessing yourself first. Jot down your answers to the following questions: What are the talents, abilities, strength and gears that you possess? Are you gifted with excellent and creative writing skills? Can you do well at sales? Are you good in communicating with people? Are you born with an artistic skill or unique ability that other people don’t have? Through this, you can determine the kind of business where can possibly excel.
Next, look around and write down you assets and physical resources such as computer, color printer, scanner, digital camera, cell phone, CD or DVD burner. Write these all down because it can be used as a resource. Consider also your friends and family. Find out what do they possess that you have access to. Remember that no man is an island. You can use the talents, abilities, knowledge and resources of everyone you know.
That’s basically the initial step if you want to create multiple income streams. But if you’re already a webmaster or a site owner, you definitely have an edge. Why don’t you join affiliate marketing business to help you gain extra income out of your own website?
Being involved in affiliate marketing is one of the most desirable ways to make multiple sources of income. It is because affiliate marketing programs come in various shapes and forms. There are a large number of affiliate marketing programs that you can sign on with and start gaining bucks right away. In affiliate marketing, you can make money by promoting and reselling your affiliate products and by recruiting new affiliates. What’s good about this is that you can find widest array of training materials that can enhance your marketing abilities. In affiliate marketing, you can be sure that there are genuine products to promote and sell and there is real income to make.
Either part time or full time, being an affiliate marketer is an excellent way to create multiple income streams by means of promoting products and services from web merchants. Here, you can get affiliate commission without investing big bucks in making your own product and without worrying about book keeping, customer support and ecommerce. All you have to do is to promote and resell the products and services in your site and pass on potential customer’s the merchant’s site.
In affiliate marketing, it is advisable to promote more merchants in your site so that your visitors will have variety of destinations to choose from. Using multiple merchants in the same site or niche means only one thing – you have multiple streams of affiliate income. There is absolutely nothing wrong with this business strategy because this is one of the best ways to protect your business and expanding your horizons. Through this, you can be assured that you won’t experience crisis if ever one of your web merchants closed his/her program.
However, you should choose only those affiliate programs that interest you so that you can effectively advertise and promote them. Don’t ever be tempted into signing up for numerous affiliate programs in the hope that one of them will bring income. Select wisely and don’t be engaged in selling products you know nothing about. Go with the stuff that jives with your enthusiasm; your passion can capture your client by the nose and guide him/her to your affiliate link.
You should also work hard to make your multiple streams of income more stable. You can do this by embracing some strategies and tactics and by developing within yourself, some traits that can help you become successful in any kind of business such as patience, persistence and thirst for knowledge.
Lastly, just remember the adage that says “Don’t put all your eggs in one basket.” So that if one of them is lost, you can still have some to make omelets. And what do these eggs have to do with multiple streams of affiliate income? Well, it goes without saying that the more streams of income you possess, the bigger and better your money lake becomes.
There is a businessman that said and attested that the very first step you must take in creating multiple streams of income is to assess or evaluate your resources. Start by assessing yourself first. Jot down your answers to the following questions: What are the talents, abilities, strength and gears that you possess? Are you gifted with excellent and creative writing skills? Can you do well at sales? Are you good in communicating with people? Are you born with an artistic skill or unique ability that other people don’t have? Through this, you can determine the kind of business where can possibly excel.
Next, look around and write down you assets and physical resources such as computer, color printer, scanner, digital camera, cell phone, CD or DVD burner. Write these all down because it can be used as a resource. Consider also your friends and family. Find out what do they possess that you have access to. Remember that no man is an island. You can use the talents, abilities, knowledge and resources of everyone you know.
That’s basically the initial step if you want to create multiple income streams. But if you’re already a webmaster or a site owner, you definitely have an edge. Why don’t you join affiliate marketing business to help you gain extra income out of your own website?
Being involved in affiliate marketing is one of the most desirable ways to make multiple sources of income. It is because affiliate marketing programs come in various shapes and forms. There are a large number of affiliate marketing programs that you can sign on with and start gaining bucks right away. In affiliate marketing, you can make money by promoting and reselling your affiliate products and by recruiting new affiliates. What’s good about this is that you can find widest array of training materials that can enhance your marketing abilities. In affiliate marketing, you can be sure that there are genuine products to promote and sell and there is real income to make.
Either part time or full time, being an affiliate marketer is an excellent way to create multiple income streams by means of promoting products and services from web merchants. Here, you can get affiliate commission without investing big bucks in making your own product and without worrying about book keeping, customer support and ecommerce. All you have to do is to promote and resell the products and services in your site and pass on potential customer’s the merchant’s site.
In affiliate marketing, it is advisable to promote more merchants in your site so that your visitors will have variety of destinations to choose from. Using multiple merchants in the same site or niche means only one thing – you have multiple streams of affiliate income. There is absolutely nothing wrong with this business strategy because this is one of the best ways to protect your business and expanding your horizons. Through this, you can be assured that you won’t experience crisis if ever one of your web merchants closed his/her program.
However, you should choose only those affiliate programs that interest you so that you can effectively advertise and promote them. Don’t ever be tempted into signing up for numerous affiliate programs in the hope that one of them will bring income. Select wisely and don’t be engaged in selling products you know nothing about. Go with the stuff that jives with your enthusiasm; your passion can capture your client by the nose and guide him/her to your affiliate link.
You should also work hard to make your multiple streams of income more stable. You can do this by embracing some strategies and tactics and by developing within yourself, some traits that can help you become successful in any kind of business such as patience, persistence and thirst for knowledge.
Lastly, just remember the adage that says “Don’t put all your eggs in one basket.” So that if one of them is lost, you can still have some to make omelets. And what do these eggs have to do with multiple streams of affiliate income? Well, it goes without saying that the more streams of income you possess, the bigger and better your money lake becomes.
Label:
Affiliate Marketing
Don't Make These Common 4 Affiliate Mistakes!
Myths concerning affiliate marketing are appealing and attractive. People who do not know the entire system the wrong way round are prone to believing that it is something capable of giving them great fortune overnight. Stories concerning affiliates who earn tremendous amounts of money swim in their heads, and while these stories are as true as they can be, there are those who believe that they are going to have the same fortune once they indulge in this particular business.
It is true enough that affiliate marketing is financially rewarding. People who have gone through everything to be able to succeed in this business are reaping the seeds that they untiringly sowed. Many of them enjoy the kind of existence that was not possible for them to have had under ordinary circumstances. Having gone through the A-Z of affiliate marketing, however, these people are the ones who know that while such business is lucrative, there is absolutely no easy money in it.
Ignorance of this fact is one of the main reasons why there are people who fail miserably in the internet business. There are those who believe in myths concerning the easy money involved in systems such as affiliate marketing. They do not know that there are those who have wasted time, effort and too many resources in trying to pursue the life of ease that they believe this business will give them. And so they go into affiliate marketing armed with nothing but myths and fantastical notions of wealth swimming in their consciousness, never realizing that they bound to make mistakes that would prove to be their downfall.
What may be the reason why in businesses such as affiliate marketing, many are called but few are chosen? Perhaps the answer lies on the fact that many affiliates make mistakes that result from their ignorance of facts concerning how the entire business runs. Affiliate marketing is not as simple as an affiliate promoting a merchant’s wares through his website and getting paid for it. It is also about knowing the market and the customers at hand.
Discovering what the most common mistakes affiliates make can perhaps dispel the gloom about myths surrounding affiliate marketing by correcting some wrong notions about it. It might also be able to make those concerned understand that like any other business, there are dos and donts involved in this one if they want to make each of their steps count. The first common mistake affiliates make is their lack of knowledge concerning principles involved in their business. This refers to the affiliate’s knowledge of search engines in particular.
Affiliate marketing involves advertising, and advertising through the internet could not have been better without the existence of search engines. What every affiliate has to do is to make these search engines his best friend through studying search engine optimization closely. This way, he is able to know what to do in connection with building a better website to ultimately use for his business.
The second is that affiliates make the mistake of stuffing their sites with banners that do not provide enough information about the product at hand. The best way to battle this mistake is to provide good content hand-in-hand with such banners. It is important for customers to know and understand the features of a product, and good content will be able to help them realize this goal.
The third is that there are affiliates who make the mistake of promoting only one product. Consequently, customers are not given enough options to choose from. There is also the risk of generating fewer sales as compared to having more options for customers ponder about. It is always better to give them a few better alternatives than to give them only one.
The fourth is that there are affiliates who make the mistake of promoting too many products. As a result, customers are confused and end up beyond making a choice. It is perhaps good to give them only the best choices. This is because it is ultimately up to them to judge which one is the best for them to patronize.
All in all, affiliates that are doomed to fail in this business are those who do not exert enough effort to understand everything involved in the industry that they are in. Knowing their path step by careful step will prove to be beneficial to them, as there is no other way to succeed than to go through any path slowly but surely.
It is true enough that affiliate marketing is financially rewarding. People who have gone through everything to be able to succeed in this business are reaping the seeds that they untiringly sowed. Many of them enjoy the kind of existence that was not possible for them to have had under ordinary circumstances. Having gone through the A-Z of affiliate marketing, however, these people are the ones who know that while such business is lucrative, there is absolutely no easy money in it.
Ignorance of this fact is one of the main reasons why there are people who fail miserably in the internet business. There are those who believe in myths concerning the easy money involved in systems such as affiliate marketing. They do not know that there are those who have wasted time, effort and too many resources in trying to pursue the life of ease that they believe this business will give them. And so they go into affiliate marketing armed with nothing but myths and fantastical notions of wealth swimming in their consciousness, never realizing that they bound to make mistakes that would prove to be their downfall.
What may be the reason why in businesses such as affiliate marketing, many are called but few are chosen? Perhaps the answer lies on the fact that many affiliates make mistakes that result from their ignorance of facts concerning how the entire business runs. Affiliate marketing is not as simple as an affiliate promoting a merchant’s wares through his website and getting paid for it. It is also about knowing the market and the customers at hand.
Discovering what the most common mistakes affiliates make can perhaps dispel the gloom about myths surrounding affiliate marketing by correcting some wrong notions about it. It might also be able to make those concerned understand that like any other business, there are dos and donts involved in this one if they want to make each of their steps count. The first common mistake affiliates make is their lack of knowledge concerning principles involved in their business. This refers to the affiliate’s knowledge of search engines in particular.
Affiliate marketing involves advertising, and advertising through the internet could not have been better without the existence of search engines. What every affiliate has to do is to make these search engines his best friend through studying search engine optimization closely. This way, he is able to know what to do in connection with building a better website to ultimately use for his business.
The second is that affiliates make the mistake of stuffing their sites with banners that do not provide enough information about the product at hand. The best way to battle this mistake is to provide good content hand-in-hand with such banners. It is important for customers to know and understand the features of a product, and good content will be able to help them realize this goal.
The third is that there are affiliates who make the mistake of promoting only one product. Consequently, customers are not given enough options to choose from. There is also the risk of generating fewer sales as compared to having more options for customers ponder about. It is always better to give them a few better alternatives than to give them only one.
The fourth is that there are affiliates who make the mistake of promoting too many products. As a result, customers are confused and end up beyond making a choice. It is perhaps good to give them only the best choices. This is because it is ultimately up to them to judge which one is the best for them to patronize.
All in all, affiliates that are doomed to fail in this business are those who do not exert enough effort to understand everything involved in the industry that they are in. Knowing their path step by careful step will prove to be beneficial to them, as there is no other way to succeed than to go through any path slowly but surely.
Minggu, 24 Januari 2010
7 Ways to Drive Laser-Targeted Traffic
An affiliate marketer may have all the things needed for him to be able to succeed in a business such as affiliate marketing. He may have the necessary drive, diligence and perseverance to be able to understand how the system works. He may have all the tools necessary in maintaining the business, including a really unique and interesting website which could earn him a fortune if only the whole world could see it. However, all these would prove useless if he does not know how to drive traffic to his website. His business would sink into oblivion together with all the sales, fortune and dreams that he might have realized if he only knew how to do this particular task.
Getting people who matter to see one’s website is a difficult undertaking if he tries to consider the fact that there are rivals everywhere waiting to pin him down. The immensity of the internet as well as the affiliate marketing world has given birth to the fierce competition between affiliate marketers, each of whom has his own great product to offer. With all the websites piling on top of each other, how would one be able to stand out? The seven best ways to drive laser-targeted traffic to one’s own website would help those who are bent on sticking it out with this business wherever it is bound to take them.
The first step in driving traffic to one’s website is by relying on search engines and what they can do for the affiliate marketer concerned. Because they are popular for driving free targeted traffic, they should not be ignored by all means. Having top search engine rankings is vital in building popularity links, and the use of the right keywords is important in attaining this goal. Once a website is on top of the list, it is easily accessible to anyone who wants to see it for himself.
The second way in driving traffic to one’s website is by contacting other webmasters for a possible link exchange partnership. Locating websites that are related to one’s own website is the primary task. Once there, he should be able to establish communication by personalizing everything as much as possible. It is then possible to make reciprocal link exchanges between webmasters whichever way the affiliate marketer prefers.
The third way is through writing one’s own articles. This is an effective way in promoting a website, because good content that are appreciated by readers will lead them to visit the writer’s very own website out of sheer interest.
The fourth way is through joint venture marketing. This is one of the most effective ways of promoting a product or a service. Having a partner through ad swap or link exchange is beneficial to both parties as it allows them to reach a wide customer base in a short amount of time.
The fifth is through joining affiliate programs. Having affiliates to do the work means allowing them to bring tons of traffic to a website. Skyrocketing sales would be realized as a result, and both the affiliate and the website owner will benefit from the situation.
The sixth is by having a list of subscribers that one can refer to every so often, because they are those which would prove to be valuable assets for the marketer concerned. The use of autoresponders and personalized newsletters is one way of keeping track of them all, and holding on to them by letting them know about new products and services is an essential task that should be done by the affiliate marketer concerned.
The seventh is by knowing one’s market through and through. It is important for traffic to be targeted to those who might have a special interest in the theme or topic of one’s website. This way, a solid customer base is going to be created. Once a potential customer shows an interest in a particular website by paying it a visit, one must not waste time in trying to show him that his effort is worth it.
Traffic generating strategies are important in trying to make one’s affiliate marketing career inch forward. It is always advantageous to plan one’s moves in any business that he might undertake. This is particularly so in affiliate marketing. If one knows how to get people to see what he has to offer, then he is on the right track.
Getting people who matter to see one’s website is a difficult undertaking if he tries to consider the fact that there are rivals everywhere waiting to pin him down. The immensity of the internet as well as the affiliate marketing world has given birth to the fierce competition between affiliate marketers, each of whom has his own great product to offer. With all the websites piling on top of each other, how would one be able to stand out? The seven best ways to drive laser-targeted traffic to one’s own website would help those who are bent on sticking it out with this business wherever it is bound to take them.
The first step in driving traffic to one’s website is by relying on search engines and what they can do for the affiliate marketer concerned. Because they are popular for driving free targeted traffic, they should not be ignored by all means. Having top search engine rankings is vital in building popularity links, and the use of the right keywords is important in attaining this goal. Once a website is on top of the list, it is easily accessible to anyone who wants to see it for himself.
The second way in driving traffic to one’s website is by contacting other webmasters for a possible link exchange partnership. Locating websites that are related to one’s own website is the primary task. Once there, he should be able to establish communication by personalizing everything as much as possible. It is then possible to make reciprocal link exchanges between webmasters whichever way the affiliate marketer prefers.
The third way is through writing one’s own articles. This is an effective way in promoting a website, because good content that are appreciated by readers will lead them to visit the writer’s very own website out of sheer interest.
The fourth way is through joint venture marketing. This is one of the most effective ways of promoting a product or a service. Having a partner through ad swap or link exchange is beneficial to both parties as it allows them to reach a wide customer base in a short amount of time.
The fifth is through joining affiliate programs. Having affiliates to do the work means allowing them to bring tons of traffic to a website. Skyrocketing sales would be realized as a result, and both the affiliate and the website owner will benefit from the situation.
The sixth is by having a list of subscribers that one can refer to every so often, because they are those which would prove to be valuable assets for the marketer concerned. The use of autoresponders and personalized newsletters is one way of keeping track of them all, and holding on to them by letting them know about new products and services is an essential task that should be done by the affiliate marketer concerned.
The seventh is by knowing one’s market through and through. It is important for traffic to be targeted to those who might have a special interest in the theme or topic of one’s website. This way, a solid customer base is going to be created. Once a potential customer shows an interest in a particular website by paying it a visit, one must not waste time in trying to show him that his effort is worth it.
Traffic generating strategies are important in trying to make one’s affiliate marketing career inch forward. It is always advantageous to plan one’s moves in any business that he might undertake. This is particularly so in affiliate marketing. If one knows how to get people to see what he has to offer, then he is on the right track.
Building Affiliate Marketing Websites The Easy Way
There are some myths in affiliate marketing, which attract a lot of people to it believing they are true. First is they think managing an online business is easy and second, they think that one can make a fortune through online marketing in an instant. Probably not even 10% of those who are into affiliate marketing became rich overnight. There may be some who fortunately achieved overwhelming success in just a short span of time after setting up an affiliate program, but not a majority of them can confidently say they only had luck. Anyone who is successful in this kind of business would say he worked hard to get to where he is right now. Success in affiliate marketing takes time and hard work, but it’s worth it.
If you are planning to start an affiliate program, one of the things you have to consider is having your own website, not just an ordinary website but a professional looking one. How do you build an affiliate marketing website? What are the easy steps to build one? First, you must have already decided on the theme or niche of your website. It would be better if you already have an idea what products or services to promote as this would help you plan the design and lay-out of your web pages. The next thing to do is to choose a domain name and get it hosted. The domain name is a unique name used to label the actual address of your website on the Internet. In deciding what domain name to register, look into the type of products you are endorsing and the theme of your site. Having the right keywords in your domain name would give you better chances of drawing more visitors to your website. Also, choose a top level domain or extension, such as .com because it is more popular. In selecting your web host, consider the security of servers and up time guarantees.
Now, you can start creating your webpages. Don’t be disheartened when you know a little in this field. There are page generation tools and fast launch sites available online; you just have to search for them. Countless online sources could help you build an affiliate marketing website, though you might need time to study and learn the whole process. This is one of the reasons why your site or the products you are going to promote must match your interest. Building your marketing website for the first time would be a lot more fun if you know very well the theme of your site. If you don’t have time to make your own website, you can use templates or purchase readily available websites. The latter, however, is a more expensive option.
Creating an affiliate website on your own would be cheaper and more interesting. In the process of building your website, you may also increase your knowledge in Information Technology and the use of computers, softwares and the Internet. As you educate yourself in these fields, you are increasing your advantage against other affiliate marketers. It helps a lot, though, if you already know the basics in web page development like programming languages and graphics softwares because you can make your site extra corporate-looking, more convenient to use or easier to navigate. Furthermore, if you are knowledgeable and skillful in this area, you can already concentrate more on the content of the page rather than the design.
The key to draw visitors to your website is to have high quality content; thus, the next thing you must pay attention to in building your marketing website is this. There may be several other factors that contribute to the success of your affiliate marketing site, but a good content tops the list. This is precisely the reason why users choose to enter your site. They want to get information and so when they don’t find it, they would definitely go elsewhere. Write interesting articles related to your theme as this would make them frequent your site. If you have already looked for affiliate programs that complement your site, add links to the business sites and other very good informative sites. Links contribute to how well you will be listed in major search engines as well. Also, create pages for the products you are endorsing, but don’t just promote the products by putting hyped-up ads. Keep your readers interested by injecting lots of relevant and useful information. This would make them click the link to the business site and buy the product. Remember that no good content means no frequent visitors, no sales and ultimately, no commission.
Make your site simple yet not without a touch of class in order to make it appear more of a business website rather than a personal website. This would be pleasing to the eyes and more interesting to browse. To help you with the design, you can check some successful online stores to get an idea on how you can make your site look better. Make sure you don’t place too many banner ads since these could distract some site users; and thus, instead of clicking your ad, they might just leave your site and look for other interesting websites. After all, banner ads are not the only means of advertising your products. Now your website is complete, submit its URL to major search engines to increase your traffic.
Grow from where you started. Learn about use of keywords for search engine optimization and apply them in your content. Update your site regularly or add new webpages. Make sure to inform your prospects about the latest updates in your site. You can use newsletters to accomplish this. The Internet offers a huge source of information about just anything, make use of it. Continue to educate yourself on how to improve your website and soon you’ll find yourself successful in affiliate marketing.
If you are planning to start an affiliate program, one of the things you have to consider is having your own website, not just an ordinary website but a professional looking one. How do you build an affiliate marketing website? What are the easy steps to build one? First, you must have already decided on the theme or niche of your website. It would be better if you already have an idea what products or services to promote as this would help you plan the design and lay-out of your web pages. The next thing to do is to choose a domain name and get it hosted. The domain name is a unique name used to label the actual address of your website on the Internet. In deciding what domain name to register, look into the type of products you are endorsing and the theme of your site. Having the right keywords in your domain name would give you better chances of drawing more visitors to your website. Also, choose a top level domain or extension, such as .com because it is more popular. In selecting your web host, consider the security of servers and up time guarantees.
Now, you can start creating your webpages. Don’t be disheartened when you know a little in this field. There are page generation tools and fast launch sites available online; you just have to search for them. Countless online sources could help you build an affiliate marketing website, though you might need time to study and learn the whole process. This is one of the reasons why your site or the products you are going to promote must match your interest. Building your marketing website for the first time would be a lot more fun if you know very well the theme of your site. If you don’t have time to make your own website, you can use templates or purchase readily available websites. The latter, however, is a more expensive option.
Creating an affiliate website on your own would be cheaper and more interesting. In the process of building your website, you may also increase your knowledge in Information Technology and the use of computers, softwares and the Internet. As you educate yourself in these fields, you are increasing your advantage against other affiliate marketers. It helps a lot, though, if you already know the basics in web page development like programming languages and graphics softwares because you can make your site extra corporate-looking, more convenient to use or easier to navigate. Furthermore, if you are knowledgeable and skillful in this area, you can already concentrate more on the content of the page rather than the design.
The key to draw visitors to your website is to have high quality content; thus, the next thing you must pay attention to in building your marketing website is this. There may be several other factors that contribute to the success of your affiliate marketing site, but a good content tops the list. This is precisely the reason why users choose to enter your site. They want to get information and so when they don’t find it, they would definitely go elsewhere. Write interesting articles related to your theme as this would make them frequent your site. If you have already looked for affiliate programs that complement your site, add links to the business sites and other very good informative sites. Links contribute to how well you will be listed in major search engines as well. Also, create pages for the products you are endorsing, but don’t just promote the products by putting hyped-up ads. Keep your readers interested by injecting lots of relevant and useful information. This would make them click the link to the business site and buy the product. Remember that no good content means no frequent visitors, no sales and ultimately, no commission.
Make your site simple yet not without a touch of class in order to make it appear more of a business website rather than a personal website. This would be pleasing to the eyes and more interesting to browse. To help you with the design, you can check some successful online stores to get an idea on how you can make your site look better. Make sure you don’t place too many banner ads since these could distract some site users; and thus, instead of clicking your ad, they might just leave your site and look for other interesting websites. After all, banner ads are not the only means of advertising your products. Now your website is complete, submit its URL to major search engines to increase your traffic.
Grow from where you started. Learn about use of keywords for search engine optimization and apply them in your content. Update your site regularly or add new webpages. Make sure to inform your prospects about the latest updates in your site. You can use newsletters to accomplish this. The Internet offers a huge source of information about just anything, make use of it. Continue to educate yourself on how to improve your website and soon you’ll find yourself successful in affiliate marketing.
Langganan:
Komentar (Atom)